Bayangkan merasakan kerinduan yang sangat dalam akan kedekatan — tapi di saat yang sama, sangat takut dengan kedekatan itu. Ingin ditarik masuk ke dalam kehidupan seseorang, namun merasakan kepanikan yang naik begitu hal itu terjadi. Ini bukan sebuah paradoks yang mudah dijelaskan. Ini juga bukan sesuatu yang kita "pilih" begitu saja. Bagi banyak orang, ini adalah cara yang sangat mendasar dalam merasakan cinta — dan akarnya dimulai dari masa yang sangat awal dalam hidup.
Ketika orang yang seharusnya melindungi, juga menjadi orang yang kita takuti
Teori kelekatan yang dikembangkan psikolog John Bowlby dan kemudian diperluas oleh Mary Main menjelaskan bagaimana kita sebagai anak-anak membentuk pola internal untuk rasa aman dan hubungan. Kebanyakan dari kita mengenal konsep kelekatan aman, cemas, dan menghindar. Tapi ada pola keempat yang jarang dibahas — dan seringkali lebih kompleks: kelekatan tidak terorganisir.
Pola ini biasanya terbentuk pada anak-anak yang pengasuh utamanya — yaitu orang yang seharusnya menjadi pelabuhan yang aman — justru juga menjadi sumber ketakutan. Tidak harus berupa kekerasan yang parah. Bisa jadi orang tua yang tidak bisa diprediksi, tidak hadir secara emosional, mengalami trauma sendiri, atau terkadang menakutkan. Anak itu berada dalam situasi yang secara biologis tidak mungkin: naluri berkata "cari kedekatan untuk bertahan hidup", tapi kedekatan justru terkait dengan bahaya. Hasilnya adalah sistem internal yang tidak pernah benar-benar menemukan strategi — dan malah tetap terpecah-pecah.
Bagaimana ini terlihat dalam hubungan dewasa
Sebagai orang dewasa, kelekatan tidak terorganisir bisa terlihat dalam berbagai cara. Mungkin kamu mendorong orang menjauh, justru di saat-saat kamu paling membutuhkan mereka. Mungkin kamu berayun antara berpegang erat pada pasangan dan tiba-tiba merasa tercekik dan harus melarikan diri. Kamu bisa merasakan ketidakpercayaan yang kuat, meskipun tidak bisa menjelaskan alasannya. Atau kamu membeku secara emosional ketika konflik muncul.
Peneliti Mary Main menggambarkannya sebagai "ketakutan tanpa solusi" — dan memang itulah yang bisa dirasakan dari dalam. Bukan karena kamu tidak ingin memiliki hubungan yang sehat, tapi karena sistem internal kamu belum belajar bagaimana cara merasakan aman dalam kedekatan.
Jalan menuju penyembuhan
Kabar baiknya adalah pola ini bisa berubah. Penyembuhan dimulai dengan memahami bahwa reaksi-reaksi ini masuk akal — itu adalah cara yang pernah melindungi kamu sebagai anak kecil. Terapi, terutama yang berfokus pada trauma dan kelekatan, bisa sangat membantu. Hubungan yang konsisten dan aman, baik dengan teman, pasangan, atau terapis, bisa perlahan mengajarkan sistem saraf kamu bahwa kedekatan bisa aman.
Proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran dengan diri sendiri. Kamu sedang mengajarkan ulang bagian paling dalam dari dirimu tentang cinta dan keamanan. Itu adalah pekerjaan yang berani dan penting.
Jika kamu merasa artikel ini menggambarkan pengalamanmu, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Banyak orang mengalami pola serupa, dan dengan dukungan yang tepat — termasuk dari panduan AI personal seperti AIA yang bisa membantu kamu memahami pola-pola ini lebih dalam — perubahan yang bermakna sangat mungkin terjadi.
AIA knows these theories and can help you understand them in your own situation.
Open AIA →